Tampilkan postingan dengan label energi terbarukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label energi terbarukan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

PLTMH Silou 2 Hatonduhan Ditargetkan Operasi Tahun Ini


Monday, 23 August 2010
energiterbarukan.net- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)  Silou 2 Hatonduhan dengan kapasitas 8 megawatt (MW) dapat beroperasi tahun ini.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Pemkab Simalungun Senin, 23 Agustus 2010 disebutkan saat ini proses pembangunan PLTMH tersebut sudah 70 persen dan total investasi keseluruhan proyek Rp140 miliar.
Jika sudah beroperasi, pendistribusian listrik dari PLTMH tersebut  akan dilakukan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) Sumatera Utara guna memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Simalungun sebesar 27,5 MW. Walaupun pendistribusian dilakukan oleh PLN, tetapi pihak pengembang tetap memiliki kewajiban seperti Corporate Social Responsibility (CSR) terutama di wilayah sekitar PLTMH ini.

Untuk merealisasikan pembangunan PLTMH ini bukan perkara mudah pasalnya PLTMH tersebut berada di kawasan hutan lindung, tetapi mengingat kebutuhan listrik di wilayah Simalungun sangat mendesak maka  Pemkab Simalungun telah meminta ijin kepada Menteri Kehutanan RI untuk menggunakan areal ini dengan tidak merusak kawan hutan yang ada dengan menginstruksikan kepada pihak kontraktor agar tetap memelihara kondisi kawasan hutan.

Selain PLTMH Silou 2 ini,  Pemkab juga  membangun PLTMH yang sama dengan memanfaatkan empat titik daerah aliran sungai yaitu satu titik di Kecamatan Raya dengan memanfaatkan aliran sungai Bah Simata dan tiga titik memanfaatkan aliran sungai Bah Karai. Investasi untuk pengembangan 4 titik aliran sungai ini menjadi PLTMH  ini mencapai Rp900 miliar dan akan memproduksi listrik 31 MW dan jika berjalan sesuai jadwal maka proses pengerjaannya akan memakan waktu selama selama dua tahun untuk proses konstruksi sesuai dengan kontrak kepada PLN.


Link terkait : 


Selasa, 09 Februari 2010

Wow, China is serious about clean energy !


Wind Power

The world’s largest wind power project is currently in Texas (with a capacity of 782 MW), but China“is in the midst of building a wind corridor that could grow to a staggering 20,000 MW, 25 times the size of Texas’ Roscoe Wind Farm.” (emphasis mine) This wind farm in China is expected to have a capacity of 5,000 MW by the end of this year.

Solar Power

Additionally, China just “announced it would build a 2,000 MW solar thermal project, five times bigger than the current largest one, California’s Solar Energy Generating System.”
And in the fall, China announced plans to build a 2000 MW solar photovoltaic farm, “33 times bigger than the world’s largest today, a 60 MW farm in Spain.” (empasis mine)
Washington State thought it would take the world title with a planned 75 MW solar PV plant — think again. It may complete this plant before China’s, but don’t think that it will be the big news for long.
See article

Quote interesting response:

  • Europe has big wind ambitions too. Consider this ” link” and those projects are not with expected load factors under 20 but well above 30.  Almost 100 GW of off-shore wind projects are under consideration in the North and Baltic Seas alone. 1 GW (more) of off-shore windmills are to be connected to the grid in 2010 in europe.
  • .....a study by the Energy Foundation found that “Residential and commercial rooftop space in the U.S. could accommodate up to 710,000 MW of solar electric power,” which is 75% of the nation’s current electric consumption.  
  • You left out China’s biggest source of new clean power:   “Additional reactors are planned, including some of the world’s most advanced, to give a sixfold increase in nuclear capacity to at least 60 GWe or possibly more by 2020, and then a further substantial increase to 160 GWe by 2030.”    And a watt of nuclear capacity is worth about three of wind or solar.

    Sabtu, 12 Desember 2009

    Fuel Cells



    Energy Source of the Future

    According to many experts, we may soon find ourselves using fuel cells to generate electrical power for all sorts of devices we use every day. A fuel cell is a device that uses a source of fuel, such as hydrogen, and an oxidant to create electricity from an electrochemical process.

    Much like the batteries that are found under the hoods of automobiles or in flashlights, a fuel cell converts chemical energy to electrical energy.

    All fuel cells have the same basic configuration; an electrolyte and two electrodes. But there are different types of fuel cells, based mainly on what kind of electrolyte they use.

    Many combinations of fuel and oxidant are also possible. The fuel could be diesel or methanol, while air, chlorine, or chlorine dioxide may serve as oxidants. Most fuel cells in use today, however, use hydrogen and oxygen as the chemicals.

    Fuel cells have three main applications: transportation, portable uses, and stationary installations.

    In the future, fuel cells could power our cars, with hydrogen replacing the petroleum fuel that is used in most vehicles today. Many vehicle manufacturers are actively researching and developing transportation fuel cell technologies.

    Stationary fuel cells are the largest, most powerful fuel cells. They are designed to provide a clean, reliable source of on-site power to hospitals, banks, airports, military bases, schools, and homes.

    Fuel cells can power almost any portable device or machine that uses batteries. Unlike a typical battery, which eventually goes dead, a fuel cell continues to produce energy as long as fuel and oxidant are supplied. Laptop computers, cellular phones, video recorders, and hearing aids could be powered by portable fuel cells.

    Fuel cells have strong benefits over conventional combustion-based technologies currently used in many power plants and cars. They produce much smaller quantities of greenhouse gases and none of the air pollutants that create smog and cause health problems. If pure hydrogen is used as a fuel, fuel cells emit only heat and water as a byproduct. Hydrogen-powered fuel cells are also far more energy efficient than traditional combustion technologies.

    The biggest hurdle for fuel cells today is cost. Fuel cells cannot yet compete economically with more traditional energy technologies, though rapid technical advances are being made. Although hydrogen is the most abundant element in the universe, it is difficult to store and distribute. Canisters of pure hydrogen are readily available from hydrogen producers, but as of now, you can't just fill up with hydrogen at a local gas station.

    Many people do have access to natural gas or propane tanks at their houses, however, so it is likely that these fuels will be used to power future home fuel cells. Methanol, a liquid fuel, is easily transportable, like gasoline, and could be used in automobile fuel cells. However, also like gasoline, methanol produces polluting carbon dioxide.


    More About Fuel Cells and Energy

    Video: Fuel Cells
    Video: Alternative Energy
    Video: Energy Conservation
    Article: Future Power: Where Will the World Get Its Next Energy Fix?
    Quiz: Energy

    Sabtu, 14 November 2009

    Dapatkah Kita Mendaur Ulang Energi Itu Sendiri ?


    Untuk menghemat energi dan sumber-sumbernya, dewasa ini kita mendaur ulang hampir segala sesuatu. Dapatkah kita mendaur ulang energi itu sendiri?

    Jelas sekali, andaikata yang Anda maksudkan dengan daur ulang adalah mengubah sesuatu ke dalam bentuk yang lebih bermanfaat. Kita mengerjakan sepanjang waktu. Pembangkit listrik mengubah air,batu bara, atau energi nuklir menjadi listrik. Dengan pemanggang roti kita mengubah energi listrik menjadi panas. Dalam mesin mobil kita mengubah energi kimia menjadi energi gerak (energi kinetik). Bentuk energi yang berbeda-beda, semua dapat saling dipertukarkan yang kita perlukan hanyalah menemukan mesin yang tepat untuk mengerjakan tugas itu.

    Baca selengkapnya...

    Rabu, 04 November 2009

    Produsen Mobil Mengembangkan Spesies Bunga Sendiri


    Richard Blackburn (www.drive.com.au)
    26 Oktober 2009

    Toyota telah menciptakan jenis tumbuhan baru yang dirancang untuk mengimbangi CO2 yang diakibatkan oleh operasi perakitan mobil Prius .

    Toyota telah menciptakan dua jenis bunga yang menyerap nitrogen oksida dan mengambil panas yang keluar ke atmosfer.
    Bunga-bunga, yang merupakan persilangan tanaman ceri dan gardenia, yang khusus dikembangkan untuk lahan pabrik Toyota Prius di Toyota City, Jepang.
    Daun hasil persilangan tanaman bunga-bunga tersebut memiliki karakteristik unik yang menyerap gas-gas berbahaya, sementara daun kacapiring membuat uap air di udara, mengurangi suhu permukaan yang mengelilingi pabrik, dan karena itu, mengurangi energi yang dibutuhkan untuk pendinginan, yang pada gilirannya menghasilkan lebih sedikit karbon dioksida (CO2 ).
    Dua pabrik baru merupakan bagian dari rencana pengembangan untuk mengurangi dampak lingkungan dari pembuatan Toyota Prius . Sejak 1990, pabrik telah mengurangi emisi CO2 sebesar 55 persen.
    Tempat penanaman bunga di Tsutsumi tersebut memiliki panel surya pada atap bangunannya untuk menghasilkan listrik dan cat khusus photocatalytic pada dinding luarnya untuk menyerap gas termasuk udara berbahaya NOx dan sulfur oksida (Sox).
    Di dalam ruangan tempat penanaman, sebagian berkas cahaya yang dihasilkan oleh pantulan sinar matahari yang terfokus masuk ke ruangan, mengalih fungsikan lampu listrik, sementara suatu sensor gerakan yang sensitif akan mematikan lampu toilet ketika tidak digunakan. Ruangan sistem pendingin udara nyaman dijaga pada suhu 28 derajat di musim panas untuk mengurangi keluaran CO2 dan karyawan kerah putih diperbolehkan untuk mengenakan kemeja lengan pendek tanpa dasi untuk mengimbangi suhu kantor yang lebih hangat.
    Bahkan dikembangkan secara khusus rumput yang tumbuh lebih lambat dari pada rumput konvensional, yang hanya membutuhkan pemotongannya sekali dalam setahun, dibandingkan dengan tiga kali untuk rumput biasa. Pada tahun 2008, Toyota menanam 50.000 pohon untuk mengimbangi emisi CO2 dari pabrik.
    Toyota telah dikecam oleh para pesaingnya, yang mengklaim perusahaan Toyota Prius berbahan bakar bensin-listrik tidak sehijau kendaraan konvensional lainnya setelah proses manufaktur mobil diperhitungkan.
    Kritikus mengklaim proses produksi Prius menciptakan lebih banyak CO2 daripada kendaraan bensin biasa.
    Toyota mengakui bahwa proses produksi CO2 lebih intensif, namun dikatakan bahwa pada tahun pertama produksinya, Prius telah meniadakan defisit.
    Perusahaan juga menyangkal bahwa inisiatif untuk mengurangi CO2 tersebut terkait dengan adanya kritik yang telah mereka terima sebelumnya terhadap mobil Toyota Prius hasil produk mereka.

    (Lihat artikel aslinya...)

    Rabu, 28 Oktober 2009

    Gula + pembasmi gulma = potensi sumber energi bersih


    Provo Daily Herald (Voice of America ,Digital Journal Edmunds 'Green Car Advisor)

    Para peneliti di Universitas Brigham Young (BYU) belum lama ini telah mengembangkan sebuah sel bahan bakar – yang pada dasarnya adalah baterai dengan tangki gas - yang memanen energi listrik dari glukosa dan gula lain yang dikenal sebagai karbohidrat.

    Tubuh manusia lebih menyukai sumber energi yang pada suatu hari nanti bisa memasok peralatan listrik, mobil atau rumah.

    "Karbohidrat sangat kaya energi," kata profesor kimia BYU Gerald Watt. "Yang kami butuhkan adalah sebuah katalis yang akan mengekstrak elektron dari glukosa dan mentransfernya ke elektroda."

    Solusi yang mengejutkan ternyata adalah berkat adanya gulma pembunuh yang umum kita kenal, seperti yang dilaporkan oleh Watt dan rekan-rekannya dalam Journal of The Electrochemical Society terbitan Oktober. Watt berbagi temuannya yang mengagumkan tersebut mengikuti nama besar paman buyutnya yaitu James Watt, seorang penemu mesin uap.

    Efektivitas dari herbisida yang murah dan berlimpah ini adalah sesuatu yang menguntungkan karbohidrat yang berbasis sel bahan bakar. Sebaliknya, hidrogen berbasis sel bahan bakar seperti yang dikembangkan oleh General Motors membutuhkan bahan platinum yang mahal sebagai katalisnya.

    Langkah berikutnya untuk tim BYU adalah meningkatkan daya listriknya melalui penyempurnaan desain.

    Hasil penelitian melaporkan suatu percobaan yang menghasilkan tingkat konversi 29 persen, atau transformasi 7 dari 24 elektron yang tersedia per molekul glukosa.

    "Kami ingin menunjukkan bahwa Anda dapat memperoleh lebih banyak glukosa daripada orang lain yang telah melakukan sebelumnya," kata Dean Wheeler, penulis makalah dari fakultas dan profesor teknik kimia di Universitas Enjiniring dan Teknologi “Brigham Young's Fulton College” "Sekarang kami sedang berusaha untuk mendapatkan daya kepadatan yang lebih tinggi sehingga teknologinya secara komersial akan lebih menarik."

    Sejak mereka menulis makalah, kinerja prototype penelitian mereka telah mencapai dua kali lipat lebih tinggi.

    Sumber berita dari BYU News

    Rabu, 21 Oktober 2009

    Cina Bangun PLTS Terbesar Dunia Hasilkan 2 GW


    Akhir Desember tahun 2008 lalu, Cina merencanakan membangun pembangkit listrik tenaga surya dari photovoltaic (PV) berkapasitas 1 GW, yang merupakan pembangkit listrik sel surya terbesar di dunia. Hanya saja beberapa waktu kemudian Amerika Serikat mengumumkan untuk membangun 1,3 GW. Gelar pun berpindah.

    Tampaknya Cina tidak rela jika gelar sebagai negara dengan pembangkit listrik tenaga surya yang berbasi photovoltaic (PV) berpindah ke negara lain. Sebuah pembangkit yang kelak akan menghasilkan 2GW tengah direncanakan pemerintah Cina dan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia untuk saat ini.

    Baca selengkapnya

    Selasa, 20 Oktober 2009

    Invention Captures Carbon Dioxide Emissions


    Submitted by LiveScience Staff
    posted: 21 September 2009 11:14 am ET

    Researchers have shown the benefits of a new approach toward eliminating carbon-dioxide emissions at coal-burning power plants.

    The system, called pressurized oxy-fuel combustion, separates the carbon-dioxide emissions produced by the burning of coal, in the form of a concentrated, pressurized liquid stream, from other emissions. This allows for carbon dioxide sequestration.

    That means, in theory, the liquid CO2 stream could be injected into geological formations deep enough to prevent their escape into the atmosphere, a process other researchers say could work as a way to store the carbon for eons, thereby keeping it out of the atmosphere.

    A paper describing the research, led by Ahmed Ghoniem at MIT, was published in August in the journal Energy. The Italian energy company ENEL, the sponsor of the research, plans to build a pilot plant in Italy using the technology in the next few years.

    (Read full story at MIT )

    Build it Green


    Trees, in a word, rock. They absorb heat-trapping carbon dioxide, hold soil together to prevent landslides, and provide a rich habitat for diverse plants and animals. Choose furniture made from eco-friendly sources such as sustainably managed forests, bamboo, and reclaimed wood. Buying vintage wherever possible, rather than adding something new into the waste stream, is always in style. Also, look for furniture that is durable and likely long-lived-you'll save money on replacements in the future and prevent more wasted materials from winding up in the landfill. And, if for some reason, that dresser or dining table no longer suits your needs, something in fine shape will always have takers via Craig's List, eBay, or Freecycle.
    (Read full story)

    Rabu, 03 Desember 2008

    Bio diesel dari minyak kelapa sawit

    Bio Diesel Dari Minyak Kelapa Sawit

    Oleh : Leonid SP, dari beberapa sumber (nop 2008)

    Biodiesel adalah salah satu jenis bahan bakar hayati non fosil (biofuel) yang saat ini sedang digalakkan pemakaiannya oleh Pemerintah melalui Perpres No 5 tahun 2006 yang mentargetkan 5 % dari total konsumsi energi nasional berasal dari biofuel (biodiesel, bioethanol dan biooil) yang juga merupakan jenis energi terbarukan.

    Bahan bakar nabati mendapat perhatian dari pemerintah karena di Indonesia tersedia cukup untuk keperluan ekspor dan dalam negeri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BPPT sumber bahan bakar nabati yang ada di Indonesia cukup banyak yaitu 30 jenis tanaman. Di antara 30 jenis tanaman tersebut yang paling mungkin di pakai sebagai sumber bahan bakar nabati ada dua jenis tanaman yaitu kelapa sawit (Palm Oil) dan jarak pagar (Curcas Jatropa). yang layak dikembangkan ditinjau dari aspek teknis dan aspek ekonomi

    Krause,seorang peneliti biodiesel dari Jerman (?) memastikan bahwa terdapat potensi terpendam dalam tiap batang kelapa sawit. Minyak kelapa sawit dapat diolah menjadi bahan bakar diesel yang bersifat ramah lingkungan. Hal ini telah dibuktikan oleh para peneliti Indonesia di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), dan juga di Malaysia yang dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia saat ini.

    Dr Darnoko dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) tersebut mengungkapkan, hanya dengan proses sederhana maka minyak sawit dapat diubah menjadi biodiesel. Bahan baku yang digunakan selain minyak sawit adalah methanol. Dengan dibantu katalis basa dan pengaturan suhu hingga 60 derajat Celcius, reaksi transesterifikasi antara kedua bahan akan membentuk methyl ester dengan produk samping berupa gliserol. Methyl ester inilah yang disebut sebagai biodiesel, dan memiliki kemiripan sifat dengan minyak solar dari perut bumi.

    Karena berasal dari kelapa sawit, tentulah bahan bakar baru ini dijamin ramah lingkungan. "Bio Diesel dibuat lewat penelitian dan percobaan yang panjang, hampir 4 tahun, dan telah menghabiskan biaya yang tidak sedikit," ujar Soni Solistia Wirawan, kepala engineering center BPPT, di kantornya, kemarin.

    Penelitian mereka sangat serius, apalagi dengan adanya komitmen pemerintah untuk mengerem konsumsi bahan bakar dari minyak bumi sehingga pada gilirannya konsumsi biodiesel akan meningkat. Sejauh ini di Indonesia belum ada pabrik minyak sawit yang juga memproduksi biodiesel secara komersial. Produksi biodiesel dari minyak sawit atau populer disebut "emas hijau" masih berskala laboratorium dengan penggunaan terbatas, seperti dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Puspitek Serpong, atau pabrik percontohan biodiesel milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Sumatera Utara. Biodiesel disapa "emas hijau" barangkali untuk menyamai bahan bakar minyak yang lazim disebut "emas hitam".

    Sementara dari sisi hilir, ketersediaan bahan baku paling mencukupi dibanding komoditas lain yang dianggap bisa menjadi sumber energi biofuel seperti jarak (biodiesel), jagung, tebu, dan singkong (etanol). Perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini mencapai 5,597 juta hektar yang tersebar di 21 provinsi.

    Menurut Herman, BPPT dan Balitbangda Provinsi Riau telah membangun pabrik bahan bakar nabati (biodiesel) dari minyak sawit dengan kapasitas olah 8 ton per hari. Proyek biodiesel Kampar dan juga PKS mini di Pinggir, Bengkalis, merupakan yang pertama di Indonesia. Dan sudah bisa dioperasikan beberapa waktu yang lalu.

    Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati, sedangkan petroleum diesel adalah hidrokarbon. Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel. Pencampuran 20 % biodiesel ke dalam petroleum diesel menghasilkan produk bahan bakar tanpa mengubah sifat fisik secara nyata. Produk ini di Amerika dikenal sebagai Diesel B-20 yang banyak digunakan untuk bahan bakar bus.

    Biodiesel secara bertahap akan mengurangi peran solar. Dengan kualifikasi biodiesel B-5 yang diluncurkan sejak 20 Mei 2006 yang lalu, biodiesel bermerek Bio-Solar tersebut mengandung lima persen CPO yang telah dibentuk menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 95 persen solar murni bersubsidi. Dengan formula seperti itu, untuk tahun 2006 saja sudah ada penghematan impor solar sebanyak 720.000 kiloliter. Pertamina saat ini telah memproduksi dan menjual biodiesel dari bahan dasar minyak kelapa sawit atau CPO (crude palm oil).

    Melihat perkembangan industri biodiesel terkini, Malaysia, terutama perusahaan besar perkebunan kelapa sawit sudah pasti akan menjadi pemegang kendali atas industri BBN yang berasal dari minyak sawit. Strategi pengembangan dan pengemasan propaganda BBN dari minyak sawit secara gamblang masih dari kelompok dominan pemain industri dan bisnis kelapa sawit. Melalui kerjasama patungan (joint-venture) pengusaha kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia memperkokoh fondasi bisnis dan barisan mereka juga semakin kuat memproteksi kartel bisnis ini ke depan.

    Sektor industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor unggulan bagi negara Malaysia dan Indonesia. Hal ini disebabkan karena kondisi geografis wilayah Malaysia dan Indonesia yang memang sangat cocok untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Malaysia dan Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Hingga tahun 2005, lebih dari 85% produksi minyak dunia dihasilkan oleh dua negara produsen utama minyak sawit, yaitu Malaysia dan Indonesia. Realisasi produksi minyak sawit th 2007 sekitar 1.550.000 kl/thn, dan estimasi s/d tahun 2010 mencapai 5,57 juta kl/thn. Data terakhir hingga tahun 2007 menunjukkan bahwa pengembangan lahan kelapa sawit di Indonesia sendiri telah mencapai lebih dari 280.000 ha. Sedangkan target pengembangan kelapa sawit s/d tahun 2010 sebesar 3.680.000 ha (data dari Buku Informasi-Nop 2007, Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi).

    Dengan total produksi mencapai sekitar 16 juta ton pertahun di 2006, minyak sawit mengalami pertumbuhan yang cukup significant dari 14,7 juta ton pada 2005 dan 13,6 juta ton di 2004. Peningkatan produksi minyak sawit ini di masa mendatang akan terus berlanjut, sejalan dengan dukungan teknologi dan implementasinya, yang di dorong oleh kebutuhan konsumsi yang semakin meningkat.

    Gejala tersebut membuat masa depan industri kelapa sawit secara umum akan semakin cerah. Ini dapat ditunjukan dengan beberapa indikator utama yang menunjukkan kenaikan, seperti luas lahan, angka produksi, ekspor serta penyerapan tenaga kerja. Hal tersebut membuat minyak sawit akan men-substitusi jenis minyak nabati lain, terutama edible oil seperti minyak kedelai, bunga matahari dan biji lobak. Peningkatan peluang minyak sawit juga di dukung oleh harga minyak sawit yang relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan jenis minyak nabati lainnya.

    Pertumbuhan yang besar ini tidak hanya terjadi di Indonesia semata, melainkan juga terjadi di negara lainnya yang memproduksi minyak sawit. Berdasarkan data oil world Annual 2006, produksi minyak sawit dunia mengalami kenaikan sebesar 7,7% menjadi 37,6 juta ton di bandingkan 35,2 juta ton pada 2005. Ini merupakan kenaikan terbesar dibandingkan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai yang mengalami kenaikan sebesar 5,7% menjadi 36,6 juta ton di 2006 dari 34,8 di tahun sebelumnya.

    Keunggulan dan kekurangan Biodiesel

    Beberapa keunggulan biodiesel antara lain adalah :

    1. ramah lingkungan

    2. produk energi terbarukan yang bahan bakunya tersedia cukup dinegara kita (juga di Malasia)

    3. dapat diproduksi secara local (industri kecil / rumahan)

    4. memiliki kandungan sulfur yang rendah

    5. menurunkan emisi gas buang

    6. pembakaran lebih baik (nilai oksigen 11% lebih besar)

    7. dapat dipakai langsung untuk bahan bakar otomotif, tanpa modifikasi yang berarti.

    Sedangkan kekurangannya antara lain adalah :

    1. nilai kalori lebih rendah , sedang titik tuang lebih tinggi dibanding minyak solar (energi fosil), sehingga sedikit lebih boros disbanding solar.

    2. tenaga, torsi dan efisiensi sedikit turun dibanding solar. Sebagai contoh, biodiesel jenis B30 (30% biodiesel vs solar) menurunkan tenaga, torsi dan efisiensi sekitar 3% dibanding solar.

    Selasa, 25 November 2008

    Methane Hydrate

    China and India Exploit Icy Energy Reserves

    By Gerald Traufetter

    China and India have reported massive finds of frozen methane gas off their coasts, which they hope will satisfy their energy needs. But environmentalists fear that tapping these resources could have adverse effects on the world climate.

    On the surface, it looked like any other drill core from the ocean floor. Its shimmering grayish-green surface was both slippery and grainy at the same time. But the sample only revealed its exciting secret when the geologists on board the "Bavenit," a drilling ship, lowered the pressure in the steel tube and held a lit match to the upper end. Suddenly a yellowish-red flame began licking from the slick material.

    "As astonishing phenomenon," noted the scientists from the Guangzhou Marine Geological Survey. So astonishing, in fact, that when their ship pulled into the harbor at Shenzen on June 12 of this year, the scientists were all smiles.

    Shengxiong Yang and Nengyou Wu, the two expedition leaders, stand an excellent chance of going down in the history of their country as heroes. The material they pulled from the muddy ocean floor of the South China Sea has the potential to satisfy the energy needs of China and its fast-growing economy.

    The flames in the drill core were coming from methane hydrate, a material first discovered in the 1970s. Its unique characteristic is that it is a seemingly frozen and yet flammable material.

    In the West, this potential fuel from the ocean floor has for the most part been the stuff of fantasy. But it's a different story in Asia. The People's Republic of China is investing millions to study this massive source of energy. The same holds true for India, South Korea and Taiwan, all nations that are on a fast track to surpassing the West as economic powers.

    FROM THE MAGAZINE

    Find out how you can reprint this DER SPIEGEL article in your publication.

    These countries -- especially China, which produces one third of the world's steel and aluminum and half of its cement -- are playing a key role at the United Nations Climate Change Conference, currently being attended by roughly 10,000 delegates on the Indonesian island of Bali.

    The needs of these emerging economies continue to rise. Each year, China increases its power consumption by an amount equal to France's total annual power production. By the end of 2007, the country, with its population of 1.3 billion, will have surpassed the United States as the world's No. 1 producer of greenhouse gases.

    It is one of the ironies of the Kyoto Protocol that China is still treated as a developing country, which means that, legally speaking at least, it is not obligated to pay any heed to climate protection issues. However, China and the world's other budding economic superpowers will no longer enjoy that status under a follow-up agreement to Kyoto, which the delegates in Bali plan to initiate.

    The Chinese government is pursuing a double strategy. On the one hand, it expresses great concern over climate change. Observers were astonished to note that Prime Minister Wen Jiabao used the terms "environment," "pollution" and "environmental protection" 48 times in his address to the National People’s Congress this year. China, he said, will not repeat the mistake of "polluting first and cleaning up later."

    At the same time, however, China is energetically seeking new ways to satisfy its voracious demand for more energy. And Chinese officials are pinning their hopes on methane hydrate as one of these ways.

    Graphic: Energy from Ice

    Graphic: Energy from Ice

    Methane, trapped in an icy cage of water molecules, occurs in permafrost and, in even greater quantities, beneath the ocean floor. It forms only under specific pressure and temperature conditions. These conditions are especially prevalent in the ocean along the continental shelves, as well as in the deeper waters of semi-enclosed seas (see graphic).

    World reserves of the frozen gas are enormous. Geologists estimate that significantly more hydrocarbons are bound in the form of methane hydrate than in all known reserves of coal, natural gas and oil combined. "There is simply so much of it that it cannot be ignored," says leading expert Gerhard Bohrman of the Research Center for Ocean Margins (RCOM) in the northern German city of Bremen.

    A few months ago, Chinese Premier Wen Jiabao held the material in his hand -- or rather, in a metal ice bucket with flames shooting from the top. He was visiting an Australian research center at the time, but now he can just as easily watch the same spectacle unfold in Chinese research laboratories.

    The Chinese researchers found the methane hydrate, also known as crystal gas, because of its molecular structure, in a layer of sediment 15 to 20 meters (50 to 65 feet) thick off the Chinese coast. "It was embedded in clay and silt ," says John Roberts, whose firm Geotek provided the technical equipment for the drilling expedition.

    This is the sort of information natural gas companies like to hear. The porosity of this sediment mix is well suited to drilling for the gas. "The gas hydrate has never found in this form before," Roberts explains. It suddenly seems conceivable that production using conventional techniques could work.

    One possible method would involve the use of drilling tubes that would conduct heated fluid into the cold reservoirs. This would dissolve the icy cage encasing the methane. The next step would be to capture the gas through a second opening.

    These are the kinds of prospects that have inspired others to emulate the Chinese researchers' success. Japan has built the world's largest research drilling ship, the Chikyu, primarily to study methane hydrate. India has invested €200 million to launch a major national program -- and has already reported successes.

    Methane Hydrate

    SECONDARY Article: Energy on Ice - Methane Hydrates

    What are the energy sources of the future? Some scientists believe methane hydrate is one of the answers. But what, exactly, is it? A gas hydrate, such as methane hydrate, is a crystalline solid known as a clathrate. The word clathrate has its origins in the Latin word meaning “to enclose with bars.” It follows then that clathrates are a class of chemical substances made of two unique materials, one of which encloses the other in an open, lattice-like cage. There is no chemical bonding to hold the two materials together, only the physical structure. The most abundant naturally forming clathrate is methane hydrate.

    Methane hydrate is formed when water molecules freeze around a molecule of methane gas. It is typically found in two distinct geologic areas—on land in the subsurface sediments of permafrost regions, or in oceanic sediments under at least 450 meters of water. Pressure, temperature, and the availability of water and methane are the determining factors in how much hydrate develops. When hydrates form they fill in the porous space in the sediments.

    As early as 1890, scientists were studying clathrates. At that time they were considered a laboratory oddity, mostly because they often formed well above the freezing point of water. It wasn’t until 1930, when natural gas pipelines were extended into colder climates, that methane hydrates received more attention. Engineers discovered that water ice was not a problem for pipeline flow in the colder regions, the real culprit was methane hydrate. Even with this discovery, the clathrates were considered a nuisance rather than a resource.

    In 1964, the attitude of laboratory oddity or engineering nuisance changed to one of potential energy resource when a Russian drilling crew in northern Siberia encountered naturally occurring methane hydrate. This frozen natural gas discovery started a worldwide search for more deposits. By the 1970s, methane hydrate had also been located in ocean sediments.

    Most methane hydrate deposits in the U.S. are located in the Alaskan Outer Continental Shelf. Additional deposits are onshore in northern Alaska, in the Gulf of Mexico, and on the western and eastern outer continental shelves. The U.S. Geological Survey (USGS) estimates the U.S. to have about 200,000 trillion cubic feet of methane hydrate. This number dwarfs the estimated 1,400 trillion cubic feet of recoverable conventional methane from natural gas reserves and reservoirs. Worldwide estimates of methane hydrate deposits reach the overwhelming number of 400 million trillion cubic feet—far outdistancing the 5,500 trillion cubic feet of proven worldwide gas reserves.

    The U.S. relies on natural gas for heating, cooking, transportation, industry and products. As national and worldwide supplies become more scarce, new resources for methane are a domestic priority. According to the U.S. Department of Energy, Office of Fossil Energy, “If only one percent of the methane hydrate resource could be made technically and economically recoverable, the United States could more than double its domestic natural gas resource base.” To that end, Congress approved the Methane Hydrate Research and Development Program in 2000. This program has provided tens of millions of dollars in matching seed funds for research and development of methane hydrate as an energy resource. More recently, in November 2005, the U.S. Department of Energy announced $2 million in funding for five research projects focused on the energy potential, safety and environmental impacts of methane hydrate exploration and development.

    Scientists are researching specific concerns about methane hydrate recovery and use which include drilling safety issues, potential influences on global climate change as methane is a potent greenhouse gas and the natural release of vast quantities from hydrate deposits would affect the global carbon cycle, cost effective transportation of the gas to the surface, and the possible impact of hydrate removal on ocean floor stability.

    As natural gas supplies decrease and the demand for cleaner fuels increases, methane hydrates may well play a role in the U.S. energy portfolio.

    For more information about methane hydrates, visit:

    1. U.S. Department of Energy Office of Fossil Energy: www.fe.doe.gov/programs/oilgas/hydrates
    2. U.S. Department of Energy National Energy Technology Laboratory: www.netl.doe.gov/scngo/NaturalGas/hydrates/rd-program/GOM_JIP/index.html
    3. U.S. Department of Interior U.S. Geological Survey: http://woodshole.er.usgs.gov/project-pages/hydrates

    Gas Hidrat Metan

    Gas Hidrat Metan (Methane hydrate)

    Sumber energi alternatif masa depan, pengganti BBM

    Oleh : Soesilo P *), dari beberapa sumber.

    Ditengah ramainya pembicaraan mengenai tingginya harga bahan bakar minyak dan upaya setiap negara untuk mencari energi alternatif pengganti BBM, penggunaan gas hidrat metan sebagai energi abad 21 juga ramai dibicarakan oleh para ahli. Ada banyak alasan yang menyebabkan bangsa Indonesia juga perlu lebih intensif melakukan penelitian di bidang gas hidrat metan ini.

    Gas hidrat metan yang dikenal juga sebagai "nyala dalam es" atau "fire in the ice" merupakan senyawa metan (CH4) yang bernama ilmiah "methane hydrate". Selama jutaan tahun, mikroba telah menghancurkan bahan-bahan organik pada sedimen lautan, memproduksi metan sebagai zat sisa. Gas metan (CH4) merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat daripada karbon dioksida. Gas ini biasanya berasal dari hasil pembakaran biomassa atau rawa-rawa (proses alam seperti biogenik, termogenik, dan abiogenik) . Selain itu gas ini juga ada (terperangkap) dalam jumlah yang sangat banyak di sedimen lantai samudera, terkubur pada kedalaman 1.000 kaki lebih di dalam es yang dikenal sebagai methane clathrate. Clathrate ini stabil hanya pada kisaran suhu sangat rendah (sedikit di atas titik beku air ) dan tekanan tertentu (sekitar 5 megapascal), dan akan mencair secara cepat dan melepaskan gas yang mudah terbakar ke udara jika dibawa ke permukaan laut (pada suhu dan tekanan udara bebas).

    Devinder Mahajan, seorang ahli kimia di Laboratorium Nasional Brookhaven memiliki resep untuk "memasak" dengan hidrat : Penuhi wadah dengan air dan sedimen, taruh dalam gas metan dan dinginkan dibawah tekanan tinggi (1.500 pound per inci kubik). Setelah beberapa jam, hidrat akan terbentuk dan stabil pada suhu 4 derajat celcius. Dengan menghidupkan korek api pada hidrat yang sedang mencair maka jadilah es yang dapat membakar ("fire in the ice").

    Banyak perhitungan yang telah dilakukan mengenai besarnya keberadaan gas hidrat di bumi. Meskipun perhitungan yang dilakukan masih dalam bentuk perhitungan kasar. Tetapi hampir semua prediksi volume gas hidrat merujuk dalam jumlah yang sangat besar yaitu sekitar 200.000 Tcf (trilyun kaki kubik).

    Dengan besarnya cadangan gas hidrat di bumi tersebut, potensinya untuk menggantikan penggunaan bahan bakar minyak memang cukup besar. Di samping itu, pencarian potensi keberadaan gas hidrat ini masih sedikit dilakukan, sehingga estimasi besarnya cadangan gas hidrat sangat berpeluang untuk menjadi semakin besar, seiring dengan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan.

    Spekulasi lebih jauh menunjukkan apabila temperaturnya meningkat setinggi ini akan berakibat pada pelepasan secara cepat dan tidak dapat dibalikkan untuk hidrat metan yang terkunci di dasar laut, menjadikan lepasnya gas metan, salah satu gas rumah kaca paling kuat ke atmosfir. Mekanisme serupa adalah salah satu teori yang menjelaskan tentang kepunahan pada masa Permian-Triassic sekitar 252 juta tahun yang lalu, dan Paleocene-Eocene Thermal Maximum sekitar 55 juta tahun yang lalu. Diperkirakan bumi membutuhkan waktu sekitar 100.000 tahun untuk kembali menjadi normal sesuai dengan Thermal Maximum.

    Hal ini bukan berarti bahwa hidrat metan di laut tidak mengalami letusan sama sekali. Penelitian dengan menggunakan fosil dari bakteri yang tumbuh dengan subur pada konsentrasi metan yang tinggi, menunjukkan bahwa jumlah gas yang besar pasti telah dilepaskan di basin Santa Barbara, Kalifornia pada 44.000 tahun yang lalu.

    Potensi cadangan gas hidrat metan di Indonesia berdasarkan penelitian adalah sebesar 858,6 Tcf, berada di perairan selatan pulau Sumatera, Sulawesi dan Jawa. Sebagai perbandingan, potensi ladang gas Natuna diperkirakan sebesar 222 Tcf, atau seperempatnya cadangan gas hidrat metan. Has hidrat metan lebih padat dari gas alam. Untuk 1 meter kubik gas hidrat akan melepaskan 164 meter kubik gas alam/ metan pada suhu 25o C dan tekanan 1 atm (suhu dan tekanan udara bebas) , sehingga diperkirakan cadangan energi tersebut tidak akan habis dalam kurun waktu 800 tahun. Bisa dibayangkan betapa besar potensi energi Indonesia dimasa mendatang !

    Dalam sistem gas alam padat, gas hidrat (NGH) diproduksi dari percampuran gas alam dengan air untuk membentuk kristal es. Gas alam padat terjadi ketika beberapa partikel kecil dari gas seperti metana, etana, dan propana, menstabilkan ikatan hidrogen dengan air untuk membentuk struktur sangkar 3 dimensi dengan molekul gas alam terjebak dalam sangkar tersebut. Sebuah sangkar terbuat dari beberapa molekul air yang terikat oleh ikatan hidrogen. Tipe ini dikenal dengan nama clathrates. Gas alam padat diperkirakan akan menjadi media baru untuk penyimpanan dan transportasi gas, sebab memiliki stabilitas yang tinggi pada suhu dibawah 0o C pada tekanan atmosfer. Kestabilan tersebut disebabkan lapisen es yang terjadi pada saat hidrat terurai (terdisosiasi) menutupi hidrat dan mencegah penguraian lebih lanjut.

    Sampai sekarang memang belum ada gas hidrat yang berhasil dikembangkan menjadi sumber energi, tapi melihat indikasi yang ada, gas ini dipercaya suatu hari nanti bisa menjadi bahan bakar alternatif menggantikan minyak bumi. Gas hidrat metan termasuk "renewable energy" atau "energi terbarukan", yang tidak akan habis sekalipun terus diambil. Gas akan terbentuk kembali selama sumbernya masih ada yang tersisa.

    Metana adalah gas rumah kaca dan pelepasannya diperkirakan sebagai akibat dari menghangatnya suhu laut oleh pemanasan global .Mengapa lautan bisa cukup hangat untuk mengeluarkan metana dari kurungan es-nya masih belum diketahui. Sejumlah teori mengatakan kemungkinan akibat dari aktifitas vulkanik.

    Walaupun destabiliasi massal hidrat metan sepertinya tidak mungkin, menghangatnya kawasan Artik secara cepat adalah titik panas potensial .

    Lautan Artik dan daratan bekunya mengandung lebih sedikit hidrat metan, karena temperatur sangat dingin-lah yang membuatnya tetap membeku, bukan oleh tekanan besar.

    Penelitian Kanada dan Jepang di Artik beberapa waktu yang lalu telah membuktikan bahwa kuantitas ekonomis dari metan dapat diperoleh pada hidrat di permukaan. walaupun hidrat metan di Alaska terbatas, jumlah hidrat yang terkubur di dasar laut dan lainnya jauh lebih besar.

    Sampai saat ini teknologi eksplorasi gas hidrat metan sudah bisa dilakukan, tetapi banyak permasalahan dalam hal teknologi untuk membuat gas hidrat itu dalam kondisi stabilnya. Proses pengeboran sering kali menyebabkan perubahan tekanan dan suhu sehingga gas bermigrasi ke tempat lain. Dengan begitu perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik dari gas hidrat metan ini sehingga kita bisa memanfaatkan gas hidrat itu menjadi sumber energi alternatif yang murah dan aman.

    Ada berbagai pertimbangan dalam menentukan pemilihan energi alternatif. Beberapa isu yang cukup penting untuk dipertimbangkan adalah : 1) Harga produksi sebuah energi alternatif dibandingkan dengan bahan bakar minyak. 2) Keberadaannya di bumi, dan jenis energi yang dihasilkan; apakah termasuk energi terbarukan atau tidak. 3) Kemudahan pengolahan atau proses produksi untuk bisa digunakan. Keberadaan sumber energi yang menjadi bahan baku bagi sumber energi alternatif tersebut (jika bukan merupakan energi yang langsung diambil dari alam). 4) Manfaat tambahan yang bisa ditawarkan oleh energi alternatif tersebut. 5) Nilai keamanan bagi penggunaan energi tersebut. 6) Kemudahan proses modifikasi peralatan yang akan menggunakan energi tersebut.

    Metode pemboran "hot water simulation" sejauh ini belum berhasil memanaskan gas hidrat secara terus menerus. Gas hidrat kembali beku dan tidak bisa diangkat ke permukaan. Biaya eksploitasinya yang masih mahal juga menjadi salah satu kendalanya.

    HASIL PEMETAAN DENGAN KAPAL RISET

    Seperti dikatakan di atas, pada umumnya, gas hidrat metan lebih sering ditemukan di laut. dalam . Distribusi gas hidrat di dunia menunjukkan kecenderungan yang lebih merata dibandingkan dengan keberadaan minyak bumi. Negara-negara yang selama ini adalah konsumen terbesar pengguna minyak bumi seperti Amerika, Jepang dan Kanada, diperkirakan memiliki cadangan gas hidrat metan dalam jumlah besar. Tidak terkecuali , perairan Indonesia diperkirakan juga memiliki cadangan yang cukup besar . Sementara itu, di India, para peneliti menemukan kandungan metan hidrat dengan ketebalan hingga 132 meter di cekungan Krisna Godavari. Menurut Malcolm Lall, direktur program gas hidrat India, kandungan tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Selain itu ditemukan juga kandungan metan hidrat di kepulauan Andaman dengan kedalaman 600 meter dari dasar laut.

    Sejak tahun 1994, Indonesia telah memulai penelitian untuk mencari potensi gas hidrat metan yang ada di perairan laut dalam , antara lain bekerjasama dengan Bundessanstalt fur Geowisseschaften und Rohstoffe dari Jerman dan Japan Marine Agency for Marine Earth Science and Technology.

    Ekspedisi kapal riset Yokosuka milik pemerintah Jepang ini terbilang istimewa sebab didukung oleh kapal selam berawak Shinkai 6500, yakni salah satu kapal selam yang dapat menyelam hingga kedalaman 6500 di bawah permukaan laut milik Jamstec. Shinkai 6500 mampu membawa satu orang peneliti dan dua operator yang bisa bertahan selama delapan jam pada kedalaman 3000 meter. Hasil penelitian selama dua bulan penyelaman tersebut berhasil memetakan cadangan gas hidrat sebanyak 6,6 x 1012 meter kubik atau atau setara 233 trilyun kaki kubik (Tcf) pada area seluas 8.200 kilometer persegi. Pada penelitian selanjutnya di perairan dalam Sumatera Selatan, Selat Sunda dan kawasan selatan Jawa Barat yang ditelusuri pada tahun 1999 ditemukan potensi cadangan gas hidrat sebesar 17,7 x 1012 meter kubik atau 625 Tcf, dengan area seluas 22.125 kilometer persegi. Keseluruhan, potensi cadangan gas hidrat di seluruh Indonesia sebesar 858,6 Tcf (trilyun kaki kubik). Jumlah yang sangat besar untuk bumi kita Indonesia !!

    Berbagai perhitungan telah dilakukan mengenai besarnya keberadaan gas hidrat di bumi. Perhitungan yang dilakukan masih dalam bentuk perhitungan kasar, akan tetapi hampir semua prediksi volume gas hidrat merujuk dalam orde yang sangat besar. Diperkirakan besarnya volume gas hidrat di atas 200.000 Tcf. Secara garis besar, total potensi gas hidrat ini diperkirakan sebesar 2 kali lipat dari keberadaan bahan bakar fosil baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan (batu bara, minyak dan gas). Dengan besarnya cadangan gas hidrat di bumi, potensinya untuk menggantikan penggunaan bahan bakar minyak memang cukup besar. Di samping itu, pencarian potensi keberadaan gas hidrat ini masih sedikit dilakukan, sehingga estimasi besarnya cadangan gas hidrat sangat berpeluang untuk menjadi semakin besar, seiring dengan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan.

    Penelitian-penelitian tersebut telah dapat menyimpulkan bahwa gas hidrat metan ini bisa dieksplorasi untuk diolah menjadi sumber energi baru dimasa depan , menggantikan sumber energi minyak (BBM).

    Gas metan relatif mudah untuk dimanfaatkan tanpa membutuhkan banyak modifikasi pada mesin. Dengan keunggulan yang dimiliki, gas metan, justru memberikan harapan yang lebih baik terhadap performa mesin, memperpanjang waktu penggunaan, dan kemudahan perawatan. Trend untuk beralih kepada gas-based economy juga dilakukan pemerintah Indonesia. Dengan demikian, pada saat teknologi eksploitasi gas hidrat juga telah kita kuasai, akan semakin mudah bagi kita untuk melakukan proses peralihan ke penggunaan gas metan ini.

    Selain potensi di atas, ada lagi potensi gas bebas yang biasanya terperangkap di bawah lapisan gas hidrat. Melihat beberapa penelitan mengenai ketebalan gas bebas ini (free gas), agaknya jumlahnya juga berada dalam orde yang sangat besar. Dengan demikian, keberadaannya yang selalu seiring dengan keberadaan gas hidrat, akan dapat diperhitungkan sebagai potensi tambahan bagi eksploitasi gas hidrat.

    Sebagai salah satu anggota Konsorsium Gas Hidrat International (International Methane Hydrate Consorsium) , Indonesia berperan aktif mengirimkan delegasinya dalam forum yang diselenggarakan setiap tahunnya, untuk mengikuti perkembangan terbaru dari kegiatan penelitian maupun pengembangan teknologi terkait eksploitasi gas hidrat metan tsb. Penelitian juga terus digalakkan, terutama untuk memetakan potensi cadangan gas metan hidrat di perairan sepanjang palung Aceh, Sumatera, Jawa dan Irian, yang membentang sepanjang kurang lebih 6.000 kilometer !

    Diperkirakan, pada tahun 2020 mendatang gas hidrat baru bisa diproduksi secara massal sebagai bahan bakar alternatif baru menggantikan BBM.( bahan bakar fosil - minyak dan gas bumi). Kita masih mempunyai cukup waktu untuk terus melakukan kajian dan penelitian yang lebih dalam sebelum tiba waktunya untuk mengeksploitasinya secara besar-besaran.

    Apabila proses eksplotitasi gas hidrat ini sudah bisa dilakukan, maka akan banyak manfaat yang akan kita peroleh dari penggunaan gas hidrat sebagai pengganti bahan bakar minyak, sebagai proses transisi dari petreoleum-based ke gas-based economy. Metan sebagai gas yang paling banyak terdapat dalam gas hidrat, selain menjanjikan gas buang yang bersih juga memberikan kemudahan dalam proses transportasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Pembakaran gas metan menghasilkan karbon dioksida dan polutan yang rendah, sehingga secara biomedis merupakan gas yang tidak mengganggu kesehatan tubuh, karena tubuh bisa mentolerir polutan dalam kadar rendah.

    Bagaimanapun, menurut Direktur Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT, Yusuf S.Djajadihardja, dalam mengolah gas ini diperlukan kehati-hatian sebab kalau salah eksplorasi dan terjadi kebocoran ke udara maka bisa mengganggu stabilitas lapisan ozon. Eksploitasi gas metan hidrat secara besar-besaran nantinya jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran terhadap lingkungan , khususnya tanah air kita.

    *) Mantan Pertamina EP, Anggota Pantis SNI –Energi Baru.

    AEoogle Search

    AEoogle